“Pi, jangan lupa beli pizza ya, anak-anak lagi ngerengek pengen pizza…” Pesan singkat dari istri saya malam itu.

Tumben-tumbenan anak saya minta dibeliin pizza, padahal sekalipun mereka belum pernah mencicipi rasa pizza itu seperti apa. Usut punya usut ternyata mereka baru saja nonton film Son De Sip edisi yg ada acara makan pizza ituh :)

Malam itu saya dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Bogor dengan Commuter Line. Saya lalu berpikir tiga keliling, route yg akan saya lalui kan gak ada gerai pizza. Apalagi malam sudah larut. Akhirnya sayapun memutuskan untuk beli martabak saja yang banyak tersedia di stasiun, rasanya gak kalah enak, dan asli produk dalam negeri :)

Alhamdulillah anak-anak saya gak komplen, mereka melahap martabaknya tanpa sisa.

Nah, yang lucu pas pagi-pagi anak saya bilang, “Pi, pizzanya enak. Nanti beli lagi ya, Pi…”

Rupanya anak saya benar-benar menganggap martabak semalam itu pizza, mungkin karena bentuknya yang hampir sama :)

Pizza Heart

Saya memang berusaha mendidik keluarga saya untuk lebih mencintai produk dalam negeri ketimbang barang import.

Jujur, saya sendiri seumur-umur baru sekali makan pizza, dan gak ketagihan. Biarin dech dibilang Ndeso, asal jangan dibunuh :)

Beberapa hari lalu saat pulang dari Bandung dengan menumpang bus menuju Bogor, ketika bus berhenti di Rest Area KM 97 tol Cipularang untuk mengisi bahan bakar, secara kebetulan pandangan saya tertuju pada satu tulisan “PULANG MALU, GAK PULANG RINDU”.

Saya yakin semua pasti tahu tulisan itu nangkring dimana, betul sekali, di bagian belakang truk. Para sopir truk memang punya cara tersendiri untuk mengungkapkan ekspresi mereka. Ibarat penggiat media online, maka bak truk itu sama dengan dinding fesbuk untuk menulis status. :-D

Ada sedikit kemiripan antara ‘status’ Si Sopir truk dengan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Jujur, saya kangen sekali dengan blog ini, juga teman-teman yang pernah bertemu dan bertegur sapa melalui blog ini. Namun ketika saya berniat ingin pulang (baca: update), perasaan malupun menghadang. Malu karena kelamaan cuti, malu menyandang gelar sebagai blogger angin-anginan, malu karena ga pernah silaturrahmi dengan teman-teman, malu karena hidung pesek, dsb…dsb…

***

Pagi ini cuaca di Jakarta sangat cerah, secerah hati pikiran dan perasaan saya yang akhirnya bisa menyapa teman-teman semua. Semoga teman-temanpun merasakan hal yang sama, amin…

.

Dari satu ruang di sebuah gedung di Jakarta

Abu Ghalib

Buat saya, hari Minggu adalah waktu untuk berenang. Sengaja saya pilih hari Minggu (hari libur) karena pada hari itu kolam renang relatif sepi. Biasanya kalau hari kerja kolam renangnya penuh oleh rombongan anak-anak sekolah dari SD sampe SMA.

Kalau ada telepon atau SMS tak terjawab, coba check ke kolam renang, di sana pasti ada saya. Kalo gak ada juga, berarti mungkin saya lagi jalan-jalan ke pantai.

Kalau ingin jalan-jalan ke mal atau pusat perbelanjaan maka saya pilih hari-hari biasa, karena hari Minggu (hari libur) tempat-tempat itu justeru ramai. Maklum, saya gak terlalu suka dengan tempat-tempat yang terlalu ramai, tapi bukan berarti saya manusia anti rame, lho!?

Apa arti hari Minggu buat Anda?

Kalau sebelumnya saya menulis tentang sesuatu yang berkaitan dengan air mata, maka sekarang saya ingin menulis tentang lawan dari menangis, yaitu tertawa. Biar seimbang gitu, lho!?

Selama ini saya sering dikritik, diledek, bahkan diketawai (ulang) teman-teman karena cara tertawa saya yang (katanya) aneh, lucu, unik, dan lain daripada yang lain. Jadi ketika saya tertawa karena ada sesuatu yang lucu, justeru teman-teman yang lain tertawa karena mendengar cara saya tertawa.

Berhubung ini hanya sharing secara tertulis, maka sayapun hanya akan membahas tentang cara tertawa melalui tulisan, baik melalui blog, fesbuk, twitter, ataupun melalui SMS. Pokoknya semua jenis tertawa yang ditulis-tulis gitu dech.

Beginilah cara kebanyakan orang tertawa secara tertulis:

Hahaha… (Cara ini merupakan cara yang paling umum dijumpai, termasuk saya juga lebih sering tertawa seperti ini).

Hehehe… (Hampir sama dengan contoh pertama, bedanya cuma pada penggunaan huruf A dan E).

Hehe… (Ketawanya cuma dua potong, telat nyambung atau malah belum nyambung, ketawanya gak ikhlas).

Jiah…ha…ha…ha…haaaa… (Ketawanya spontan, langsung nyambung. Bahkan cerita lucunya belum selesai udah ketawa duluan).

Hihihihihi… (Ketawanya pake “i” bikin serem, kayak ketawanya Mak Lampir).

Ho…ho… (Kalo yang ini ketawanya mirip tokoh kartun, saya tahunya dari teman yg pake avatar gambar binatang).

Hag hag hag… (Pake ditambah “g” di belakangnya, seperti ketawa ngeledek, maknanya dalam banget).

Ahayhayhay… (Nah, kalo yg ini benar-benar ketawa ngeledek, ngeledek sambil jingkrak-jingkrak).

Huhuhahaha… (Pertamanya pake “huhu” tapi ujungnya jadi “haha”. Ngakak koprol. Ketawa sambil terlentang trus kedua kakinya diayun-ayunkan ke atas seperti sedang mengayuh sepeda).

Xixixixixixixi… (Yang diketawain dengan cara ini pasti lucuuuu sekali. Jenis tertawa ini yang paling menggigit).

Nah, terakhir saya baru tahu ada cara tertawa yang lebih aneh lagi, saya tahunya dari teman yang pernah makan siang di atas bajaj. Fufufufufufufu…, katanya (Saya gak tahu sebenarnya dia sedang tertawa atau justeru lidahnya kepanasan akibat makan singkong goreng panas???) :-D

Eniwei, kalo tertawa secara tertulis sih gampang, tapi kalo tertawa yang sebenarnya saya koq malah sering diketawai teman-teman. Kenapa ya?

Kata orang, waktu saya baru dilahirkan, saya langsung menangis, bukannya langsung tertawa. Mungkin itulah sebabnya sampai saat ini saya belum tahu cara tertawa yang benar.

Pertama-tama, mari kita simak petikan SMS sbb:

Oyen     : Halo, Pak Abu. Sayah lagi di Bogor, lho!?

Abu        : Siapa?

Oyen     : Ini sayah, Oyen…!!!

Abu        : Saya tahu ini Oyen, maksud saya SIAPA yang nanya?

Oyen     : Agggrrrhhh…!!!

Abu        : Iya…iya… Maaf, saya bercanda

Oyen     : Pak Abu lagi dimana? Di Bogor apa di Makassar? Ketemuan, yuk!?

Abu        : Aduh maaf, Yen. Saya dah seminggu di Makassar. Oyen telat sih maen ke Bogor-nya

Oyen     : Ya udah, kalo gitu enggak jadi!!!

Abu        : Mangkanya kalo mo ketemu jangan ngedadak gitu, soalnya saya kan agendanya padat

SMS gak dibalas. Oyen marah.

Saya yakin Oyen pasti kecewa berat karena belum bisa ketemu idolanya. Beberapa menit kemudian setelah diperkirakan emosi Oyen mulai stabil, barulah saya telepon.

Lalu apa yang terjadi sodara-sodara?

Saya benar-benar gak nyangka seorang Oyen yang selama ini saya kenal suka nyablak, ternyata aslinya justeru sangat halus dan lembut. Walaupun saya belum ketemu langsung, namun suaranya melalui telepon benar-benar telah membius saya saking merdunya, saya bahkan seolah bermimpi sedang bicara dengan Puteri Solo. Ini beneran, lho!? Saya gak bohong.

Lain Oyen lain pula Abu Ghalib. Kata Mba Anna, saya di dunia nyata dengan di dunia maya juga berbeda bagai bumi dan langit. Waktu kami kopdar, saya terkesan rada-rada kalem (katanya), tapi di blog saya justeru banyak hahahehe suka bercanda dan kadang suka usil. Nakal katanya. Benarkah?

Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki karakter yang berbeda dengan kesan yang selama ini beredar di dunia maya? Mungkin ada yang menyangkal. Tapi disadari ataupun tidak, terkadang kita memang lebih berani berekspresi di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Narsis biar eksis, begitu pikiran orang pada umumnya.

Menurut saya, prinsip ini memang ada benarnya juga. Terbukti dari beberapa episode Headline Nyuz alias laporan kopdar dari teman-teman blogger, banyak yang bercerita tentang perbedaan karakter asli teman yang baru ditemuinya dengan karakter yang beredar di dunia maya.

Bagaimana menurut Anda?

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers